Pembela Hak-Hak Buruh Migran

0
993

Menjadi buruh migran adalah suatu pilihan. Bukanlah sebuah keinginan atau bahkan tujuan. Banyak sekali faktor pendorong untuk menjadi buruh migran. Mulai dari kurangnya lapangan pekerjaan di dalam negeri, gaji di luar negeri yang lebih tinggi dibanding di dalam negeri, alasan untuk memperbaiki ekonomi keluarga, untuk pendidikan, dan lain sebagainya. Saya sendiri adalah pernah menjadi buruh migran dengan tujuan untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Umur saya pada saat bekerja ke luar negeri kurang dari 18 tahun. Saat itu tepatnya setelah saya lulus dari SMA. Keinginan untuk bekerja ke luar negeri juga termotivasi karena pada saat itu banyak yang sukses menjadi buruh migran.Dengan pengalaman yang sangat minim dan umur yang masih belia, saya meniatkan diri untuk mengais rejeki di negeri orang. Membawa harapan agar bisa memperbaiki ekonomi keluarga.

Proses migrasi yang saya lewati diawali pertemuan saya dengan sponsor. Sponsorlah yang kemudian membawa dan mengurus kelengkapan dokumen agar saya bisa bekerja di luar negeri. Hingga pada tahun 2014, saya diberangkatkan oleh salah satu PT yang ada di Jakarta. Dengan biaya sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah saya ditempatkan untuk bekerja di daerah Nasran, Saudi Arabia.

Waktu berselang, betapa kaget dan terkejutnya saya saat berada di luar negeri. Situasinya tidak seperti yang saya bayangkan. Banyak sekali tantangan yang saya hadapi. Satu bulan saya bekerja di sana, terasa seperti sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Waktu begitu lama sekali untuk saya jalani.

Saya bekerja di satu rumah yang sangat besar dan luas. Pekerjaan yang saya lakukan adalah mengurus sebuah keluarga dengan beberapa orang anak dan seorang manula. Kehidupan yang saya jalani di Arab Saudi sangatlah berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Namun karena tekad dan niat saya bekerja di luar negeri adalah agar sukses memperbaiki ekonomi keluarga, segala tantangan saya hadapi dengan kuat dan sabar. Waktu demi waktu saya lalui, hingga lima tahun dan waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Yaitu waktu untuk pulang ke Indonesia.

Satu bulan setelah kembali ke Indonesia, saya merasakan perbedaan. Alhamdulilah, hasil dari bekerja di Arab Saudi bisa saya gunakan untuk membangun rumah dan membangun usaha kecil.

Pada tahun 2016, saya dipercayai untuk menjadi perangkat desa sebagai Staf Pemerintahan di desa saya, Desa Juntinyuat. Di tahun yang sama, Desa Juntinyuat menjadi salah satu Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI), sebuah program perlindungan pekerja migran perempuan sejak dari desa yang digagas Migrant CARE dan Program MAMPU. DESBUMI kemudian menginisiasi dibentuknya kelompok purna migran yang kami beri nama Komunitas Gema Karya Migran Juntinyuat. 

Menjadi bagian dari DESBUMI dan Komunitas Gema Karya Migran Juntinyuat merupakan hal yang sangat positif, khususnya bagi diri saya. Kegiatan-kegiatan yang saya ikuti dalam komunitas menjadi hal yang menarik buat saya. Banyak hal yang saya dapatkan, mulai dari informasi, motivasi, hingga support yang diberikan oleh tim Migrant CARE menjadi penyemangat saya dalam membela hak-hak buruh migran dari desa.

Sebagai mantan buruh migran, sekaligus bagian dari Pemerintah Desa, terlibat dalam DESBUMI adalah sebuah kesempatan berharga. Karena bersama DESBUMI, Pemerintah Desa Juntinyuat terus mendukung kami, kelompok purna migran untuk membela hak-hak buruh migran sejak dari desa.

 
*Cerita ini ditulis oleh Diyana, Kader DESBUMI Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, dan dibuat berdasarkan pengalamannya sendiri