Diskusi Jelang Pemilu Pendahuluan di Hongkong

0
619

Hongkong, 13 April 2019 – Hari ini, Migrant CARE dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menyelenggarakan diskusi bertopik “Memastikan Partisipasi Politik Pekerja Migran Indonesia dalam Pemilu 2019” di Tung Chau Street Park, Hongkong. Diskusi ini menyoal tata kelola pelaksanaan Pemilu di luar negeri, akses kepada hak pilih dan ketercukupan informasi mengenai Pemilu bagi Pekerja Migran Indonesia.

Kegiatan dibuka oleh Nurhalimah, Ketua SBMI Hongkong. Dalam sambutannya, Nur menceritakan pengalamannya dalam mengadvokasi hak suara Pekerja Migran Indonesia di Hongkong. “Sejak tahun 2014 antusias pekerja migran Indonesia terhadap Pemilu naik signifikan. Tahun ini juga kami lihat partisipasinya semakin meningkat, banyak yang mencari informasi mengenai cara menyalurkan hak suaranya,” ucap Nur.

Bobi Anwar Maarif, selaku Sekretaris Jenderal SBMI Pusat mengatakan bahwa kondisi Hongkong yang lebih terbuka dibanding negara tujuan lainnya memang cukup mengakomodasi hak politik Pekerja Migran Indonesia, meski ada beberapa catatan. “Kita amati dari pelaksanaannya memang ada perbaikan. Tapi keluhan-keluhan seperti respon yang kurang cepat dan tanggap juga masih ada,” tuturnya.

Pemilu Indonesia di Hongkong kali ini mencatat akan melibatkan sejumlah 180.232 Daftar Pemilih Tetap (DPT), dengan 112.588 diantaranya akan menggunakan hak pilihnya melalui TPS. Bisa dibilang adalah Pemilu terbesar di Hongkong, menjadi sarana Pendidikan politik pula bagi seluruh masyarakat. “Pekerja Migran Indonesia adalah agen demokrasi di dunia. Kita harus memperjuangkan bukan hanya hak mereka untuk memilih, tetapi juga dipilih, karena konstituen luar negeri layak mendapatkan Dapil tersendiri agar memiliki representasi yang lebih mengakomodir kepentingannya,” Ucap Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE.

Kegiatan ini juga menghadirkan Wandy Nicodemus Tuturoong, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden. Dalam kesempatan ini Wandy memberikan pandangannya mengenai penyebaran hoaks terkait Pemilu di media sosial, yang mana menjadi salah satu kanal informasi Pekerja Migran Indonesia di luar negeri. “Saat ini kita kebanjiran informasi, sayangnya ruang publik malah diisi hoaks dan hal-hal negatif. Ini yang harus kita antisipasi,“ ucapnya

Besok, adalah hari terakhir Pekerja Migran Indonesia melaksanakan Pemilu pendahuluan dan menyalurkan hak pilihnya melalui TPS. Migrant CARE sebagai salah satu lembaga yang memperjuangkan aspirasi Pekerja Migran Indonesia di dalam Pemilu, terdaftar sebagai pemantau terakreditasi Bawaslu dan turut memantau di negara-negara tujuan pekerja migran Indonesia, diantaranya Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Menyerap aspirasi Pekerja Migran Indonesia di Hongkong.