12 June 2026 03:02

Dari Kerajinan Tangan Hingga Edukasi Sosial: Komunitas Buruh Migran Perempuan Otosela Memperkuat Solidaritas Lewat Program Distribusi Sembako Komunitas dan Usaha Bersama

Di tengah tantangan ekonomi keluarga dan perubahan sosial yang terus berlangsung, Rumah Kreatif buruh Migran Otosela Desa Tegawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata melakukan kegiatan rutin  bulanan untuk memperkuat solidaritas. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026. Pertemuan berlangsung sejak pukul 09:000 WIB hingga 12:00 menjadi wadah untuk berbagi dukungan ekonomi dan edukasi sosial bagi para anggotanya. 

Kegiatan yang dihadiri enam anggota perempuan ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Pada awal pertemuan, pendamping komunitas menyambut para anggota kelompok dengan sapaan akrab yang mencerminkan kedekatan emosional yang telah terbangun di antara mereka, kegiatan ini berjalan dalam forum informal. Rumah kreatif buruh migran menjadi ruang aman bagi perempuan purnamigran dan keluarganya untuk saling menguatkan di tengah tantangan ekonomi seperti saat ini. 

Salah satu agenda yang menjadi perhatian utama adalah evaluasi kegiatan distribusi sembako komunitas yang diselenggarakan pada 11 April 2026. Distribusi sembako komunitas merupakan kegiatan penyediaan beras berbasis solidaritas internal yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus membayar secara langsung pada hari distribusi. Sistem pembayaran dapat dilakukan dua minggu kemudian. Ketua kelompok, yang akrab disapa dengan “Mama Ena” menjelaskan bahwa program penyediaan sembako lahir dari kesadaran bersama dalam melihat situasi akan tingginya kebutuhan pokok keluarga. Sistem pembayaran dua minggu kemudian dianggap mampu meringankan tekanan kebutuhan pokok keluarga anggota. Selain itu kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya guna mempererat solidaritas internal antar anggota, sembako yang dibagikan berupa beras, dimana setiap individu memperoleh 5 kilogram beras. 

Tidak hanya evaluasi pembagian sembako komunitas, komunitas Otosela juga menjalankan kegiatan produktif lainya berupa pembuatan syal tenun yang selama ini telah menjadi produk unggulan komunitas. Pada pertemuan 25 April, anggota komunitas berhasil menyelesaikan satu syal hasil kerja sama. Mama Ena menuturkan, dalam kurun waktu terakhir penjualan produk syal semakin menurun, hal ini dikarenakan produk syal cenderung bersifat musiman serta bukan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga permintaan pasar condong tidak bersifat stabil. 

Melihat situasi ini, anggota komunitas memikirkan inovasi baru agar kegiatan ekonomi komunitas tetap berjalan sehingga mampu memberikan pemasukan tambahan bagi anggota. Dalam diskusi yang berlangsung, Mama Ena dan anggota perempuan yang lain mengusulkan untuk mencoba memproduksi makanan ringan berupa emping atau kripik olahan dan makanan ringan. Menurut mereka, makanan ringan memiliki peluang pasar yang lebih luas dan dapat dipasarkan secara lebih fleksibel dibandingkan produk syal yang bergantung pada musim tertentu.

Selain membahas persoalan ekonomi dan produksi kelompok, pertemuan komunitas kali ini juga diisi dengan diskusi edukatif mengenai perkawinan anak usia dini. Sambil menenun dan memintal benang, para anggota mendengarkan penjelasan pendamping terkait risiko dan dampak sosial dari praktik pernikahan anak. Dalam penyampaiannya, Mama Ena menjelaskan bahwa perkawinan usia dini merupakan pernikahan yang dilakukan sebelum seseorang mencapai kematangan fisik, psikologis, maupun sosial, yaitu di bawah usia 19 tahun. Fenomena tersebut masih sering terjadi di berbagai daerah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan ekonomi keluarga, kehamilan di luar nikah, hingga minimnya edukasi mengenai dampak jangka panjang pernikahan dini. Mama Ena juga menekankan bahwa perkawinan usia dini dapat memunculkan berbagai risiko serius, baik bagi perempuan maupun anak yang dilahirkan. Risiko tersebut antara lain persalinan prematur, stunting pada anak, putus sekolah, tekanan mental atau stres, hingga meningkatnya potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di akhir pertemuan, komunitas menghasilkan beberapa kesepakatan bersama sebagai tindak lanjut kegiatan pendampingan. Kelompok sepakat untuk mulai mencoba produksi makanan kering pada bulan berikutnya sebagai alternatif usaha baru. Selain itu, program sembako akan tetap dilaksanakan satu kali setiap bulan karena dinilai efektif membantu kebutuhan anggota. Tidak hanya itu, komunitas juga merencanakan diskusi lanjutan mengenai migrasi aman dan bahaya penipuan berbasis online atau scamming digital. Tema tersebut dipilih karena semakin banyak masyarakat, khususnya calon pekerja migran, yang rentan menjadi korban penipuan melalui media sosial maupun platform digital. 

Menutup kegiatan hari itu, Ketua komunitas menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang tetap aktif berpartisipasi dalam proses produksi maupun diskusi kelompok. Semangat gotong royong yang terus dijaga oleh komunitas Otosela menjadi bukti bahwa perempuan purnamigran dan keluarganya memiliki daya tahan dan solidaritas yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Di tengah berbagai keterbatasan, komunitas seperti Otosela memperlihatkan bahwa ruang-ruang kecil berbasis masyarakat mampu menjadi tempat lahirnya perubahan besar. Dari pembagian beras, tenun syal, hingga diskusi tentang perlindungan anak, para perempuan ini sedang membangun fondasi penting bagi ketahanan keluarga dan masa depan komunitas mereka sendiri.

Ditulis oleh Yunda Fithriyah

TERBARU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *