Membangun Desa Peduli Buruh Migran di Indramayu

0
1256

Juntinyuat, merupakan salah satu desa yang menjadi basis kantong Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kabupaten Indramayu. Dalam garis historis, Juntinyuat erat hubungannya dengan Kerajaan Cirebon. Nama Junti sendiri berasal dari pohon Junti yang pada saat itu banyak digunakan sebagai tanaman obat, sedangkan nama Juntinyuat berasal dari pohon Junti yang menjorok (meyungat) ke laut sehingga Junti di daerah tersebut dinamakan Juntinyungat.

Ada pun ke khas-an di daerah ini adalah olahan lautnya seperti kuliner ikan pindang, ikan asin, dan terasi udang. Ke khas-an ini juga membuka potensi ekonomi bagi masyarakat berupa terciptanya home industry. Potensi sosial budayanya pun amat menarik mulai dari tradisi Nadran, Sedekah Bumi, Wayang Golek Cepak, sampai kesenian kontemporer berupa organ tunggal. Tak ketinggalan pariwisata andalan di desa ini yaitu Pantai Glayem dan Pantai Tirtamaya.

Secara geografis, letak Desa Juntinyuat berbatasan dengan Desa Juntiweden di sebelah Timur dan Desa Dadap di sebelah barat. Sedangkan sebelah selatannya berbatasan dengan Desa Juntikedokan dan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Akses menuju desa ini sangatlah mudah, karena wilayah desa disebrangi Jalan Utama Indramayu-Cirebon atau kita kenal dengan Jalur Pantura.

Perjalanan ke desa ini ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam dari Jakarta. Ketika Tim Migrant CARE mengunjungi desa ini, maksud dan tujuannya ialah melakukan monitoring pendataan dan persiapan pembangunan Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI). Juntinyuat sebagai Kampung TKI menjadi sasaran yang tepat bagi pengembangan DESBUMI. Terlihat antusias dari para peserta pendataan atau enumerator Desbumi Juntinyuat. Proses pembelajaran partisipatif dilakukan guna memetakan kendala, hambatan dan usulan strategi.

Kuwu Warno, selaku Kepala Desa Juntinyuat periode 2015 sampai 2021, menuturkan alasan desanya mereplikasi DESBUMI. “Masalah TKI selama ini di desa kami masih belum ada wadahnya,” tuturnya. Banyaknya kasus yang menimpa TKI, diakui Warno belum ditangani secara optimal. Proses yang panjang kerap tidak tuntas dan berhenti di jalan, sponsor dan pihak lainnya terus mengeksploitasi para TKI tanpa bisa menyelesaikan masalah, sehingga lagi-lagi mereka menjadi korban.

Kuwu Warno merupakan satu-satunya Kepala Desa terpilih yang pernah merasakan bekerja di luar negeri. Hal ini menambah kepercayaan dirinya untuk menyerap aspirasi masyarakat Desa Juntinyuat yang mayoritas bekerja sebagai buruh migran. “Waktu itu tahun 1997, di desa masih bisa dihitung jari yang berani berangkat ke luar negeri,” ucap Warno menceritakan pengalamannya. Kondisi yang dialami Warno ketika pertama kali bermigrasi tersebut sangat berbeda dengan kondisi saat ini, dimana masyarakat telah berbondong-bondong menjadi TKI melihat kesuksesan para migran sebelumnya. Kini hampir setiap rumah di Desa Juntinyuat memiliki anggota keluarga yang pernah bekerja sebagai buruh migran.

Ke depannya, bukan hanya penanganan kasus. Desbumi diharapkan dapat berkembang ke arah pemberdayaan. Sehingga para purna TKI dapat merasakan manfaat terus menerus setelah kepulangannya bekerja dari luar negeri. “Masyarakat, dan saya secara pribadi antusias,” ucap Warno. Harapannya adalah Desbumi terus melangkah ke depan, “Walaupun nanti saya sudah tidak menjadi kepala desa, ada yang melanjutkan,” pungkasnya.